Soal Petikah, Anggota DPRD Kapuas Hulu dan Warga Mentebah Saling Lapor Polisi

pena iklan

Penulusuran sejarah Petikah tragedi penjajahan Jepang tahun 1942 - 1946 yang terjadi di Desa Nanga Dua Kecamatan Bunut Hulu Kabupaten Kapuas Hulu belum lama ini oleh masyarakat setempat 

Penakapuas.com - Seorang anggota DPRD Kapuas Hulu Fabianus Kasim dilaporkan ke Polres Kapuas Hulu oleh Paulus Alexander Warga Desa Sukamaju Kecamatan Mentebah pada 11 Desember 2019 lalu. Anggota DPRD Kapuas Hulu itu dilaporkan karena dianggap melakukan tindakan pidana atas perampasan hak gagasan penggagas pencari fakta independen Petikah tragedi penjajahan Jepang tahun 1942 - 1946 yang terjadi di Desa Nanga Dua Kecamatan Bunut Hulu Kabupaten Kapuas Hulu.  
"Sampai hari ini laporan saya ini tidak ada respon dari pihak kepolisian. Saya menunggu ini sudah 5 bulan, " kata Paulus Alexander Tim Pencari Fakta Independen Petikah, Kamis (30/4). 
Pria yang akrap disapa Alexander ini mengatakan, bukannya pihak kepolisian menindaklanjuti laporannya, malahan dari pihak kepolisian mendatangi dirinya pada tanggal 24 April 2020 untuk meminta dirinya  menandatangani Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP). Namun dirinya menolak menandatangani surat tersebut. 
"Apa dasar polisi melakukan penyidikan terhadap saya.  Saya sebelumnya melaporkan Fabianus Kasim, kok yang bersangkutan melaporkan saya atas pencemaran nama baik. Mestinya perkara ini dari penyidik polisi sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, baru Kasim mengatakan ini pencemaran nama baik. Kenapa polisi berani membuat seperti ini. Atas apa yang dilakukan pihak kepolisian, dirinya akan melakukan gugatan prapradilan," kesalnya.
Lanjut Alexander, seharusnya sebelum Kasim melaporkan dirinya atas pencemaran nama baiknya terhadap postingan dirinya di Facebook soal tentang penggunaan keuangan negara menurutnya itu sesuai dengan postingan Kasim di Facebook pribadinya jika dirinya sudah menggunakan uang tersebut untuk kegiatan Petikah. 
"Harusnya pihak kepolisian itu sebelum menindak saya, pelajari juga postingan Fb dari Kasim," ujarnya. 
Alexander pun mengaku heran dengan pihak kepolisian yang tidak menindaklanjuti laporan dirinya terhadap Fabianus Kasim. Justru laporan pencemaran nama baik dari Kasim kepada dirinya, malah cepat direspon oleh pihak kepolisian. 
"Jika polisi beralasan bahwa saya sulit ditemui, itu bohong. Alamat dan nomor Hp saya sudah jelas," ucapnya.  
Lanjut Alexander, apa yang dilakukan oleh Fabianus Kasim dalam kegiatan dirinya sebagai anggota DPRD Kapuas Hulu dalam menggali sejarah Petikah dan membuat bukunya menurutnya telah merampas haknya sebagai Tim Penggagas cari Fakta Independen Petikah .
"Harusnya ketika yang bersangkutan mencoba untuk menggali sejarah Petikah, harusnya melapor dulu kepada dirinya sebagai  Penggagas cari Fakta Independen Petikah. Jangan main nyelonong saja, tidak benar orang ini," jelasnya. 
Terhadap perkara ini, dirinya hanya mengharapkan yang bersangkutan dapat mengembalikan Petikah ini kepada dirinya, batalkan pembuatan buku sejarah Petikah dan kembalikan uang negara yang sudah digunakan dalam kegiatan Petikah. "Sebelum masalah ini ke penegak hukum, saya sudah ultimatum untuk menghentikan kegiatannya," ujarnya. 
Sementara itu Fabianus Kasim Anggota DPRD Kapuas Hulu  saat ditemui enggan komentar soal perkara ini, menurutnya persoalan ini  sudah diserahkan kepada penyidik kepolisian Polres Kapuas Hulu.
Saya menjalankan tugas dan fungsi sebagai anggota DPRD  melalui reses, menyerap, menampung dan memperjuangkan aspirasi masyarakat di basis saya. Kalau ada yang berpikir lain silahkan, kita ini negara hukum," singkatnya. 
Sementara itu Iptu Siko Kasat Reskrim Polres Kapuas Hulu membenarkan jika Fabianus Kasim anggota DPRD Kapuas Hulu melaporkan Paulus Alexander warga Kecamatan Mentebah. 
"Fabianus Kasim melaporkan terlapor terkait postingan yang bersangkutan pada tanggal 17 Nopember 2019, terlapor menuduh pelapor menggunakan anggaran aspirasi sebesar Rp 65.000.000, akan tetapi dari Dinas Pendidikan tempat dimana anggaran tersebut berada, menyatakan bahwa anggaran tersebut belum terealisasi," ujarnya.  
Siko mengatakan, hingga hari ini terlapor belum diperiksa, karena setelah diundang belum hadir, tidak diketahui keberadaanya saat itu, ataukah menolak untuk hadir. "Orangnya tak ada dan masih dicari karena infonya suka pindah - pindah yang bersangkutan, " pungkasnya.  (taufiq)
Advertisement

Related

Kapuas Hulu 4833916175186505747

Posting Komentar

emo-but-icon

Terhangat

Terbaru

Komentar

Advertisement

item