Hamid Yakin Pemerintah Undur Pelarangan Penggunaan Daun Kratom

pena iklan

Di Kapuas Hulu banyak masyarakat sudah mulai beralih profesi menjadi petani, pengepul maupun pengusaha Kratom

Penakapuas.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) bakal melarang penggunaan daun kratom sebagai suplemen makanan dan obat tradisional mulai 2022. BNN memberikan masa transisi selama lima tahun, sebab tanaman kratom sebagai narkotika golongan I oleh Komite Nasional Perubahan Narkotika dan Psikotropika sejak 2017 silam.
Menyikapi larangan tersebut Abdul Hamid Pengusaha daun kratom Kapuas Hulu sangat yakin jika pemerintah akan mengundur larangan penggunaan kratom ini hingga ada penelitian yang jelas. "Karena saat ini bagaimana pun kratom kita masih sangat jauh dari proses penelitian. Indonesia saja baru setahun ini memulai akademik penelitian Kratom. Artinya pemerintah tidak bisa langsung menutup Kratomi ini," katanya belum lama ini.
Hamid mengaku heran dengan pemerintah Indonesia yang berusaha untuk melarang kratom ini, sementara negara tujuan saja seperti Amerika dan negara Eropa lain masih menginginkan kratom ini dikirim dalam jumlah banyak mulai dari 600-700 ton perbulan, artinya kandungan dari daun kratom ini luar biasa, dari barang yang murah memiliki kandungan khasiat yang luar biasa. "Bahkan Kratom ini digunakan untuk pencegahan virus Corona, luka bakar dan ratusan penyakit lainnya," ujarnya.
Hamid juga mengapresiasi terhadap dari kawan - kawan dari Asosiasi dan Koprabuh yang berjuang selama ini, bagaimana mereka komitmen mengsejahteraan petani kratom Kapuas Hulu.
"Saya pikir kita saling bergandengan tangan dengan Koprabuh. Koprabuh dengan cara mereka sendiri bagaimana memperjuangkan legalnya kratom ini. Sementara dari pengusaha dengan caranya sendiri juga memperjuangkan kratom ini," jelasnya.
Lanjutnya pria yang biasa disapa Ilham ini, perjuangan yang dilakukan oleh Koprabuh, Asosiasi maupun pengusaha ialah bagaimana kratom ini bisa menjadi pendapatan negara maupun pendapatan daerah kedepannya. 
"Saat inikan yang paling berdampak akibat Virus Corona ialah menurunnya omset pengusaha ikan Arwana dan Walet, karena nagara tujuan ekspor ikan dan walet ini ialah China dan Taiwan, sementara pandemi Corona ini, negara ini sudah ditutup," ujarnya. 
Saat ini kata Hamid, memang ekspor daun kratom lagi meningkat, bahkan satu orang pengusaha kratom ini bisa mempekerjakan 10 -200 orang. Jika Kratom ini terus berkembang, bukan tidak mungkin 50 persen orang di Kapuas Hulu ini beralih profesi menjadi petani kratom. 
"Untuk itu sebelum pemerintah benar - benar ingin menutup kratom, hal ini dapat dipertimbangkan terlebih dahulu karena daun kratom lebih banyak memberikan dampak positif kepada masyarakat terutama peningkatan ekonomi masyarakat. Pemerintah itu jangan hanya melihat dari segi negatif saja, makanan dan minuman apa saja kalau dibuat secara berlebihan tentunya akan membahayakan kesehatan. 
Sementara itu, Bupati Kapuas Hulu, Abang Muhammad Nasir, dengan tegas meminta pemerintah pusat dan pihak terkait agar membuat regulasi yang jelas terkait tanaman kratom.
"Jangan buat masyarakat kami resah, karena memang masyarakat Kapuas Hulu salah satu penghasil terbesar tanaman kratom yang sudah menjadi mata pencaharian masyarakat," ujarnya.  
Bupati pun meminta regulasi yang jelas dan solusinya terbaik yang pro kepada masyarakat, masyarakat sudah terjepit ekonomi jangan buat susah lagi dengan tidak jelasnya aturan tentang kratom. (taufiq)
Advertisement

Related

Kapuas Hulu 3012386694112481987

Posting Komentar

emo-but-icon

Terhangat

Terbaru

Komentar

Advertisement

item