Kontingen Kapuas Hulu Tiga Hari Perjalanan Tiba di Palangkaraya

pena iklan



Kontingen ekspedisi napak tilas damai Tumbang Anoi dari Kabupaten Kapuas Hulu saat tiba di gerbang perbatasan antar provinsi Kalbar-Kalteng, Jumat (21/7)

Penakapuas.com-Setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer, rombongan dari Kabupaten Kapuas Hulu, peserta ekspedisi napak tilas damai 1894 Tumbang Anoi Provinsi Kalimantan Tengah baru tiba di Palangkaraya, Sabtu (19/7).

Selanjutnya rombongan yang berjumlah sekitar 28 orang, dengan 7 kendaraan darat itu akan melanjutkan perjalan menuju tempat kegiatan di Desa Tumbang  Anoi Kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalteng.

"Dalam perjalanan kita harus beberapa kali singgah, karena memang perjalanan luar biasa jauhnya," tutur Petrus Kusnadi, Sekretaris DAD Kapuas Hulu.

Dari Putussibau, rombongan yang berangkat pada Kamis (18/7) langsung menuju Tayan, kemudian dari Tayan, Jumat (19/7) mulai bertolak menuju Provinsi Kalteng dan singgah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Dari Sampit, Sabtu (20/7) rombongan kembali menuju Palangkaraya Ibukota Provinsi Kalteng dan tiba sekitar Pukul 15.00 WIB.

"Setelah sampai di Palangkaraya, kita nginap juga, namun kita sempat dulu mampir ke rumah Betang mengkonfirmasi pihak panitia kegiatan dan Minggu (21/7) pagi kita langsung ke tempat kegiatan yang perjalannya juga masih lumayan jauh," ujar Kusnadi.

Lebih lanjut Kusnadi mengatakan, kegiatan napak tilas damai Tumbang Anoi itu punya makna penting bagi masyarakat Suku Dayak. Oleh karenanya perlu dikenang kembali kilas balik peristiwa bersejarah itu.

"Karena di Tumbang Anoi itulah lahir sebuah kesepakan masyarakat Dayak terdahulu, untuk bersama - sama menghapus sistem ngayau, sistem dendam dan tidak ada lagi tradisi harus mengorbankan sesama manusia," ungkap Kusnadi.

Konteks jaman sekarang tambah Kusnadi, memang sudah sangat tidak relevan, karena bertentangan dengan hak asasi manusia. Maka Kusnadi menilai, moment perjanjian sekitar 125 tahun silam itu harus dikenang, karena para leluhur Dayak saat itu sudah punya pemikiran yang bijaksana, bagaimana menghargai sesama manusia.

"125 tahun silam itu masyarakat Dayak sudah punya pemikiran toleransi, rasa cinta damai dan persaudaraan, itu yang harus kita pupuk," ajak pria yang juga menjabat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu ini.

Maka melalui Napak tilas ini kata Kusnadi harus dikenang kilas balik, bagaimana pemikiran orang tua kita dulu yang dianggap tidak bersekolah, penuh kekurangan namun saat itu mereka sudah punya pemikiran yang sangat maju.

"Peristiwa ini sangat menarik bagi kita, khususnya Dewan Adat Dayak Kapuas Hulu, kita bergembira sekali dalam perjalanan, menikmati suasana alam lingkungan, baik perkotaan, perkampungan," ucap Kusnadi.

Kusnadi berharap acara napak tilas itu berjalan lancar. Informasi yang ia dapat bahwa sangat banyak. Selain itu kata Kusnadi, dalam rangkaian acara selain seminar, akan ada ritual adat. "Mungkin ritual itu yang sudah ditampilka. 125 tahun lalu, dan pasti menarik, karena di Tumbang Anoi juga akan bergabung seluruh masyarakat Dayak yang ada di pulau Borneo, dan Sarawak," pungkas Kusnadi. 

Kontingen Kapuas Hulu dipimpin langsung oleh Ketua DAD Antonius L. Ain Pamero, dengan jumlah peserta sekitar 28 orang. Dengan agenda acara dijadwalkan tanggal 22-24 Juli 2019 di Desa Tumbang Anoi. (Dre)

Advertisement

Related

Kapuas Hulu 1310808880599048264

Posting Komentar

emo-but-icon

Terhangat

Terbaru

Komentar

Advertisement

item