Ustadz Abdurrahim Ayyub Beberkan Pergerakan Terorisme

pena iklan

Penakapuas.com - Ustadz Abdurrahim Ayyub merupakan salah satu gubernur di organisasi Jemaah Islamiyah (JI), yang kini sudah keluar dari organisasi tersebut. JI sendiri adalah organisasi yang dikudai oleh beberapa petinggi teroris dan melakukan serangkaian pengeboman besar di Indonesia, seperti bombali.
Ayyub menceritakan, awal mula dirinya bergabung dengan JI dilatarbelakangi rasa ketidak adilan.
"Saya lahir di Jakarta, karang tensi. Ini daerah yang kacau saat itu, kehidupan saya keras. Saya pernah lihat kekerasan terhadap wanita oleh orang asing sebab itu saya masuk ke aliran JI," tuturnya saat menjadi narasumber dalam sebuah kegiatan di mapolres Kapuas Hulu, Rabu (25/7/18).

Namun, kata Ayyub, aliran JI lalu berubah dan menjurus pada aksi pengebomanan. Hal tersebut ditegaskan Ayyub tidak sejalan dengan fahamnya. "Saya lihat tingkah laku teman JI mulai mengkafirkan satu sama lain. Mereka mulai meleset dari Islam. Sebab itu dengan hidayah Allah saya keluar JI, walaupun konsekuensinya saat itu saya dan keluarga bisa tebunuh," ucapnya.
Ayyub mengatakan dirinya sudah 20 tahun lebih di JI. Posisi gubernur pun sudah diraih. 
Dalam JI, kata Ayyub, ada empat mantiki (gubernur) yang membawahi beberapa negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Australia dan Philipina. Negara tersebut dibagi empat provinsi oleh JI. "Dulu ada dua mantiki yang lulusan akademi milter, sedangkan saya mantiki ke empat yang membawahi Australia," ucapnya.
Ayyub menuturkan terkait aksi-aksi JI diantaranya adalah Bom Bali II, penyerangan gedung WTC dan Bom Bali I. "Beberapa pelakunya saya kenal. Ada yang sudah di hukum mati dan seumur hidup," ujarnya.
Setelah kejadian pengeboman besar itu, JI berafiliasi menjadi JDI (Jemaah Darut Islam). Setelah itu berubah lagi namanya menjadi JAD (Jamaah Ansarut Daulah) selanjutnya berubah nama lagi jadi JIS (Jamaah Ansarut Syariah) setelah dapat koneksi ke ISIS. "Aliran ini berubah cepat ketika ada perubahan paham," tegasnya.

Ayyub menurutkan, radikalisme adalah dasar dari aksis terorisme. Radikal secara defenisi diartikan sebagai gerakan perubahan cepat dengan gerakan kekerasan. "Radikalisme muncul sejak abad ke 18 dimulai dari tokoh politik," paparnya.

Ayyub megaskan, radikalisme adalah PR bangsa Indonesia bukan hanya umat Islam saja. "Kalau kita melihat ada yang radikal, kita kerjasama dengan aparat. Tapi jangan lupa HAM, HAM disoroti dunia.Teroris juga paham jalur HAM," pesan Ayyub.

Ia juga menegaskan dalam hal pengungkapan terorisme itu bukan memojokan Islam. Tetapi mengungkap fakta. "Aksi terorisme tidak ada dalilnya dalam islam, bahakan diseluruh agama, itu aksi dari akal yang tidak sehat," tegasnya lagi.

Mainset radikalisme, kata Ayyub itu terbatas, ketika sudah yakin langsung berbuat. "Rasull sudah menggambarkan karakter orang radikal ini, mereka baca Al'quran tapi pemahamannya tidak tepat," tegas Ayyub.

Pemimpin pun di keritik oleh kelompok radikal. Kelompok ini juga mudah mengkafirkan orang, bahkan umat Islam sendiri. "Selanjutnya mereka lakukan pengeboman atau amaliat," papar Ayyub.

Namun taklantas, kata Ayyub, penampilan berjenggot dan cingkrang jadi ciri teroris. Saat bom bali ketika amaliat pelakunya dicukur, agar tidak di deteksi sebagai teroris. "Mereka berkamuflase seperti masyarakat," tutur Ayyub.

Sebab itu semua pihak dan aparat hukum harus antisipasi mulai dari gerakan kecil. Tak kalah penting mengetahui kemauan mereka sehingga terjadi hal yang merujuk ke radikalisme.
"Beberapa faktor yang mendasari radikalisme diantaranya kemiskinan, pendidikan, marginalisasi dan lainnya. Tapi saya tekankan kemiskinan tidak dibenarkan melakukan radikal. Ini tidak bisa dijadikan alasan," tutup Ayyub. (nes)
Advertisement
pena iklan

Related

Daerah 4574082784467768342

Posting Komentar

emo-but-icon

Terhangat

Terbaru

Komentar

Advertisement

item