Eks Gafatar Mulai Tinggalkan Mempawah

pena iklan pena iklan
pontianakpost.com – Pascaaksi sweeping dan ultimatum warga, beberapa kepala keluarga (KK) eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) mulai meninggalkan Kota Mempawah. Sejumlah rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal mereka pun kini sudah tak lagi berpenghuni. Belum diketahui secara pasti ke mana lokasi tujuan pelarian warga eksodusan tersebut.

Dari pantauan Pontianak Post, salah satu keluarga eks Gafatar yang bermukim di rumah kontrakan di Jalan Raya Opu Daeng Menambon, Desa
Kuala Secapah, tampak sudah meninggalkan rumahnya. Kabarnya, mereka mengemasi barang dan meninggalkan rumah pada Jumat (15/1) lalu, tengah malam. “Setelah didatangi warga pada malam kemarin, mereka mengaku sangat ketakutan. Hingga pada siang harinya mereka langsung memutuskan untuk pergi. Mereka sempat menjual sejumlah perabotan rumah tangga yang tidak diangkut untuk pindah ke lokasi tujuan yang baru,” kata warga di sekitar rumah kontrakan eks Gafatar yang enggan namanya dikorankan, Sabtu (16/1) pagi.
Menurut warga setempat, keluarga eks Gafatar tersebut mengaku hendak pulang ke tempat asalnya pascapengusiran oleh warga Mempawah. Mereka khawatir akan mendapatkan perlakuan yang sama jika berpindah ke daerah lainnya. “Katanya mereka memutuskan untuk pulang ke Jawa. Mereka mengaku sedih karena harus meninggalkan usaha yang baru saja dirintisnya di Mempawah. Sejak datang ke Mempawah, mereka telah bercocok tanam di Desa Bakau. Menurut mereka, lahan sudah ditanami tinggal menunggu padi tumbuh dan panen,” tuturnya.
Sektor agribisnis memang menjadi fokus warga eks Gafatar ini untuk memulai kehidupan baru di tanah Kalimantan. Mereka memutuskan berhijrah dari Pulau Jawa, dengan berbekal sejumlah rupiah hasil menjual harta benda yang ada ditempat asalnya. Modal itulah yang kemudian menjadi tumpuan harapan untuk memulai kehidupan baru. Mereka membeli lahan dan membangun tempat tinggal secara berkelompok. Di Kabupaten Mempawah, beberapa lokasi tempat bermukim warga eks Gafatar tersebut berada di Dusun Moton Asam, Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur; serta Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir; dan belasan rumah kontrakan yang berada di kedua kecamatan itu. Di Dusun Moton Asam misalnya, mereka menggarap lahan gambut seluas 43 hektare. Di atas lahan itu, mereka membangun rumah, mengelola lahan pertanian, peternakan, dan sektor lainnya. Tujuannya hanya satu yakni untuk memulai kehidupan yang baru dan bertahan hidup di tanah perantauan.
Deni, koordinator kelompok warga eks Gafatar di wilayah itu mengungkapkan alasan dirinya beserta warga lain berhijrah dikarenakan minimnya prospek kerja di tanah Jawa. Sehingga, untuk mendapatkan
kehidupan yang lebih layak, mereka pun nekad mengadu nasib dengan melakukan eksodus dalam jumlah besar. “Pertimbangan lain kami pindah ke Kalimantan yakni lahan yang masih cukup luas. Kalau di Jawa sudah hampir tidak ada lagi lahan. Kalau pun ada, harganya pasti sangat mahal. Di Kalimantan, uang Rp60 juta bisa membeli 2 hektare lahan, sedangkan di Jawa hanya bisa membeli satu kaveling saja,” ujarnya.
Melihat prospek lahan yang cukup besar itulah menambah keyakinan dirinya beserta ratusan warga eks Gafatar lainnya, menyeberang ke Pulau Kalimantan. Pihaknya pun memfokuskan pada pengembangan agrobisnis. Karena, mereka mendengar kalau bahan sayuran dan tanaman agro sebagian besar didatangkan dari Pulau Jawa. Dengan usaha dan kerja keras, mereka yakin mampu mengembangkan sektor itu di Kalbar. “Kami masih terus berusaha untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Walaupun sempat mengalami kegagalan, namun kami tidak menyerah untuk terus bercocok tanam. Hasil dari berkebun inilah untuk menghidupi seluruh warga di sini,” lirihnya.
Karenanya, dia berharap mendapatkan kesempatan dari masyarakat di Kabupaten Mempawah untuk terus menumpang hidup di wilayah ini. “Kami memang pernah mengikuti organisasi Gafatar. Namun, sekarang sudah keluar. Kami siap membuktikan kepada semua pihak kalau kedatangan kami murni untuk memulai kehidupan yang baru,” tegas meyakinkan.
Senada itu, warga eks Gafatar lainnya, Widoyoko, mengaku sangat sedih dengan ultimatum dari warga Mempawah yang memintanya meninggalkan daerah ini. Dirinya pun bingung harus ke mana lagi. Mengingat, segala aset rumah dan harta benda yang ada di Jawa sudah dijual untuk modal memulai hidup baru di Kalimantan. “Kami sudah tidak punya apa-apa lagi. Kalau pun harus pulang ke Jawa, mau tinggal di mana, karena disana sudah tidak punya rumah,” lirihnya.
Widoyoko pun menepis tudingan dan kekhawatiran masyarakat Mempawah terhadap kelompoknya yang memiliki latar belakang eks Gafatar. Dia meyakinkan jika Gafatar hanyalah masa lalu dan saat ini tidak ada lagi yang aktif dalalam organisasi tersebut. “Sekarang ini, kami hanya petani biasa yang tergabung dalam Kelompok Tani Manunggal Sejati. Kami hanya fokus pada pengembangan pertanian di wilayah ini. Kami semua sudah tidak aktif lagi dalam organisasi Gafatar,” ujarnya meyakinkan.
Lebih jauh, dirinya berharap agar masyarakat Mempawah memberikan waktu bagi kelompoknya untuk berembuk dan berunding, demi mencarikan jalan keluar dari permasalahan tersebut. Sebab, dia dan rekan-rekan sudah begitu menggantungkan harapan di daerah ini, untuk melanjutkan kehidupan yang baru. “Di sini juga ada ibu-ibu yang sedang hamil dan ada pula yang baru selesai melahirkan. Jadi kami berharap dan meminta tolong pada masyarakat agar memberikan kelonggaran waktu. Kami pasrah dengan keputusan pemerintah daerah,” tutupnya.
Dilain pihak, warga Mempawah, Ardiansyah, secara tegas menilai ajaran kelompok Gafatar sesat dan menyesatkan. Pasalnya, diungkapkan dia bahwa ajaran mereka tidak sesuai dengan syariat Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Jika kelompok masyarakat tersebut dibiarkan bermukim dalam waktu lama, dia khawatir akan mengancam akidah masyarakat muslim di Kabupaten Mempawah, terutama anak-anak. “Kami tidak membenci orangnya, tetapi kami menolak ajarannya. Masyarakat Mempawah sudah sangat resah dengan keberadaan mereka ini. Makanya, kami menuntut agar mereka semuanya angkat kaki dari Kabupaten Mempawah. Jika peringatan ini tidak tanggapi, maka kami tidak bertanggung jawab terhadap hal-hal di masa mendatang,” tegasnya.
Di lain pihak, aktivis sosial masyarakat Mempawah, Susanto, menilai perlunya penanganan dari Pemerintah Kabupaten Mempawah terhadap masuknya ratusan masyarakat eks Gafatar itu. Penanganan tersebut, menurut dia, baik dalam bentuk pengawasan hingga pembinaan secara berkelanjutan di segala aspek dan sektor kehidupan. “Mereka membutuhkan pembinaan keagamaan untuk mengembalikan akidah dan keyakinan sesuai dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Pembinaan harus dilakukan secara langsung dan berkelanjutan,” sarannya.
Sosok yang juga mantan anggota DPRD Kabupaten Mempawah ini memastikan bahwa pembinaan terhadap mereka bukan perkara sulit. Caranya, menurut dia, dengan memberdayakan para alim ulama dari MUI maupun tenaga penyuluh keagamaan yang dimiliki Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Mempawah. “Nah, dengan adanya pembinaan itu maka akidah dan pemahaman mereka terhadap Islam yang sesuai tuntunan Alquran dan Alhadis akan semakin baik. Mereka pun dengan sendirinya akan melupakan ajaran yang lalu dan kembali ke Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW,” pendapat Susanto.
Selain penyuluh agama, dia juga menambahkan, terdapat pula berbagai macam penyuluh, seperti penyuluh pertanian dan penyuluh desa. Sehingga dengan masuknya penyuluh tersebut, diharapkan dia, bisa menjadi jalur untuk melakukan pengawasan langsung aktivitas mereka. "Kalau sudah ada perwakilan pemerintah yaitu penyuluh, maka pengawasan dapat dilakukan secara langsung. Kan mereka (Gafatar, Red) infonya bertani. Tinggal kirim penyuluh pertanian ke sana, bina mereka sebaik mungkin. Bahkan kalau bisa, penyuluh dari berbagai sektor dikirim ke tempat mereka, " saran dia. (wah)
Advertisement

Related

Daerah 8201062378376920595

Posting Komentar

emo-but-icon

Terhangat

Terbaru

Komentar

Advertisement

item