AGRA Disinyalir Provokasi Masyarakat Hulu Kapuas

pena iklan pena iklan
PenaKapuas.com - Bagian Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat berhasil mendata sebagian anggota Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) di daerah Hulu Kapuas, kecamatan Putussibau Selatan yang selama ini dicari Pemerintah setempat. Kelompok tersebut disinyalir telah memprovokasi masyarakat Hulu Kapuas untuk melawan kebijakkan pembangunan Pemerintah.

Kasubag Pemibinaan Wawasan Kebangsaan pada Kesbangpol Kapuas Hulu,  Pius Buda mengatakan, pihaknya telah bertemu dengan pengurus AGRA di salah satu desa Hulu Kapuas. Mereka ada tiga orang dan mengaku bernama Andi, Heru dan Masdi. Semua beragama Islam. "Bertemu mereka baru-baru ini di Mata Lunai. Nama mereka ini berubah-ubah. Mereka tidak mau memberi tahu identitas aslinya," kata Pius, dikantornya, Senin (15/2/2016) pagi.

Pius Buda
Menurut Pius, dari tiga orang anggota AGRA itu, dua orang mengaku asal Pontianak dan satu orang mengaku berasal dari Sambas. Mereka semuanya tidak memiliki kartu tanda penduduk. Dari pengakuan anggota AGRA tersebut, mereka melakukan penelitian sosial budaya dan ekonomi. Tapi saat ditanya dasar penelitian, mereka tidak bisa memberi kepastian. "Mereka tidak mau memberi tahu," kata Pius.

AGRA sudah ada dari tahun 2014 di Hulu Kapuas. Tapi dari pengakua anggota yang berhasil ditemukan, mereka mengatakan baru tiga bulan disana. "Mereka ini sudah lama kita kejar, namun baru ketemu kemaren," ujarnya.

AGRA di Hulu Kapuas berada di desa Mata Lunai, Bungan Jaya, Lapung dan Tanjung Lokang. Tahun lalu di Lapung, masyarakat sempat menghalang upaya pemerintah kabupaten untuk melakukan sosialisasi wawasan kebangsaan. "Ternyata mereka AGRA ini berada dibelakang masyarakat yang menolak kebijakan pemerintah itu," tegasnya.

Tahun 2014, diketahui ada 6 orang anggota AGRA di Hulu Kapuas. Dulunya mereka masuk dengan alasan untuk menggali adat istiadat suku Punan, di desa Bungan Jaya. "Mereka sudah kami surati pada tahun 2014 itu, mereka sudah kami ajak ketemu, namun justru masyarakat yang menghadang. Muncul pro dan kontra di lapangan," terang Pius.

AGRA di Hulu Kapuas memprovokasi masyarakat, lalu membentuk pengurus adat sendiri. Kemudian membangun organisasi dan menerapkan iuran, bisa berbentuk beras atau ayam. "Pada Bungan Jaya, Tanjung Lotang, Lapung sudah besar organisasinya, masyarakat jadi terpecah. Seperti di Bungan Jaya justru seperti ada ketemenggungan tandingan, pemerintahan desa tandingan," ujarnya "Hanya di desa Mata Lunai belum terlalu berpengaruh provokasi AGRA," timpal Pius.

Untuk mengembangkan organisasinya, AGRA mengiming-imingkan pada kelompok masyarakat akan kesejahteraan. "Dibalik itu mereka memotori pertambangan emas. Jadi kalau masyarakat mau bertambang emas, ada semacam surat dari mereka," ungkap Pius.
Selama ini, personil AGRA tinggal di balai adat. Mereka tidak diperbolehkan nginap dirumah warga. "Dari pertemuan kemaren. Mereka AGRA ini sudah kami laporkan ke Polres Kapuas Hulu, untuk mendalami aktifitasnya," ujar Pius.

Garis besar pengaruh AGRA di Hulu Kapuas adalah upaya menggerakan masyarakat melawan pemerintah. Untuk masalah agama ini belum ada indikasi. "Mereka pengaruhinya dengan sisi ekonomi. Pemanfaatan hasil alam, seperti emas," tuturnya.

Mengawasi pergerakan AGRA memang susah. Karena berada di perhuluan Kapuas, biaya sangat besar, medan pun sulit. "Untuk mencapai ke Mata Lunai kemaren, 3 SKPD patungan anggaran. Baru bisa laksanakan kegiatan disana," tutup Pius. (yohanes santoso)
Advertisement

Related

Kapuas Hulu 3892205303491475224

Posting Komentar

emo-but-icon

Terhangat

Terbaru

Komentar

Advertisement

item